Terkini, Gowa — Direktur Utama RSUD Syekh Yusuf Gowa, dr Gaffar T Karim, menegaskan komitmennya dalam mempercepat pembenahan layanan kesehatan melalui program 100 hari kerja yang berfokus pada penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta integrasi layanan kesehatan berbasis sistem rujukan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi visi dan misi kepala daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, khususnya sektor kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
Di tengah meningkatnya ekspektasi publik, rumah sakit dituntut mampu menghadirkan layanan yang cepat, tepat, dan terintegrasi.
“Program 100 hari ini kami arahkan untuk memastikan layanan kesehatan berjalan terintegrasi. Rumah sakit tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus terhubung dengan seluruh fasilitas kesehatan dalam sistem rujukan yang efektif,” ujar dr Gaffar saat ditemui di Gowa Selasa 7 April 2026.
Transformasi BLUD Perkuat Tata Kelola dan Inovasi
Perubahan status menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sejak 1 Januari dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh, terutama dalam aspek tata kelola dan manajemen layanan.
Menurut dr Gaffar, skema BLUD memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan dan operasional, namun tetap menuntut akuntabilitas serta profesionalisme yang lebih tinggi.
“Dengan status BLUD, kami memiliki ruang untuk berinovasi. Namun di saat yang sama, kami dituntut untuk lebih transparan, akuntabel, dan profesional. Karena itu, kami sedang melakukan sinkronisasi sistem secara menyeluruh, baik dari sisi keuangan maupun layanan,” jelasnya.
Tantangan Layanan: Keterbatasan Tempat Tidur dan Obat
Di tengah proses pembenahan, RSUD masih dihadapkan pada persoalan klasik yang berdampak langsung terhadap pelayanan, yakni keterbatasan kapasitas tempat tidur dan ketersediaan obat.
Peningkatan jumlah pasien rujukan dinilai memberikan tekanan signifikan terhadap kapasitas layanan rumah sakit, sehingga membutuhkan penguatan koordinasi lintas fasilitas kesehatan.
“Jumlah pasien rujukan terus meningkat, sementara kapasitas tempat tidur masih terbatas. Ini membutuhkan penguatan sistem rujukan lintas wilayah agar pelayanan tetap optimal,” ujarnya.










