Selain itu, persoalan distribusi obat juga menjadi perhatian serius, terutama akibat dampak tata kelola sebelumnya yang memengaruhi rantai pasok.
“Kami melakukan pembenahan secara bertahap agar distribusi dan ketersediaan obat kembali stabil. Ini bagian dari perbaikan tata kelola yang sedang kami jalankan,” tambahnya.
Digitalisasi dan Pengembangan Layanan Spesialis
Sebagai bagian dari transformasi layanan, RSUD mulai mengakselerasi digitalisasi melalui implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akurasi pelayanan.
“Kami mendorong digitalisasi agar pelayanan lebih cepat, akurat, dan berbasis data,” kata dr Gaffar.
Di sisi lain, RSUD juga tengah menyiapkan pengembangan layanan spesialis, termasuk layanan jantung dan hemodialisa, untuk memperkuat fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan regional.
“Layanan jantung dan hemodialisa kami targetkan berjalan secara bertahap. Ini penting untuk menjawab kebutuhan layanan spesialis masyarakat,” ungkapnya.
Didukung 716 Nakes, Optimistis Tingkatkan Kepercayaan Publik
Saat ini, RSUD didukung oleh 716 tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis dan subspesialis, yang menjadi modal utama dalam penguatan layanan.
dr Gaffar optimistis, melalui penguatan tata kelola, SDM, serta sistem layanan yang terintegrasi, kualitas pelayanan kesehatan akan meningkat sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap rumah sakit daerah.
“Kami ingin memastikan masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah melalui layanan kesehatan yang berkualitas. Ini proses bertahap, tetapi arahnya jelas dan terukur,” pungkasnya.










