“Kita harus menyadari bahwa Gowa adalah daerah sumber. Sumber air ada di sini, material juga ada di sini. Ke depan, sangat mungkin muncul inovasi-inovasi baru dari proyek nasional yang dibangun di wilayah kita,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa manfaat Bendungan Jenelata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Gowa, tetapi juga oleh wilayah lain seperti Makassar, Kabupaten Takalar, dan Kabupaten Maros, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air baku dan irigasi.
Meski demikian, ia mendorong agar Kabupaten Gowa sebagai daerah sumber tetap memperoleh manfaat yang lebih spesifik dan prioritas, mengingat perannya dalam menjaga kawasan hulu serta konservasi sumber daya air.
“Kita perlu komunikasi yang lebih mendalam. Sebagai daerah sumber, tentu kita juga perlu mendapatkan manfaat yang lebih spesifik dan prioritas, apalagi kita yang menjaga kawasan konservasi di hulu,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Heriantono Waluyadi, menjelaskan bahwa pembangunan Bendungan Jenelata memiliki sejumlah manfaat strategis, terutama dalam meningkatkan layanan irigasi bagi sektor pertanian.
Ia menyebutkan, keberadaan bendungan ini berpotensi meningkatkan intensitas tanam petani dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun, yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat.
“Dengan peningkatan layanan irigasi, intensitas tanam petani bisa meningkat dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Ini tentu berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, bendungan ini juga akan berfungsi sebagai penyedia air baku bagi sejumlah daerah, serta mendukung pengendalian banjir di wilayah hilir Sungai Jeneberang.
“Aliran air dapat diatur sehingga mampu mengurangi risiko banjir secara signifikan di kawasan hilir, sekaligus memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi masyarakat,” jelasnya.
Tak hanya itu, Bendungan Jenelata juga memiliki potensi pengembangan energi listrik serta sektor pariwisata, sehingga memberikan manfaat multi-sektor yang berkelanjutan.










